run text

Selamat Datang Di Blog Kumpulan Berbagai Makalah Artikel, dan Cerita
 

Sunday, June 21, 2015

Sepenggal kisah tentang hidup ku (cerita bersambung)

0 komentar
Sepenggal kisah tentang hidup ku
Daun-daun pohon jambu yang mulai menguning dan kering berjatuhan di halaman rumah dengan hamparan rumput jepang nan hijau kini ku lihat dari jendela. Seorang diri, ku duduk termenung di  dalam ruangan yang sepi ini, hanya di temani oleh meja serta kursi dari kayu yang mulai rapuh, karena di makan usia, Entah tak tau berapa usianya. Detak suara jam dinding yang begtu menggetarkan dada membuat suasana hening menjadi sedikit di temani olehnya, serta sinar mentari pagi menerobos masuk melalui jendela kayu yang telah mulai rapuh di makan rayap, sinar ini sedikit menghangatkan tubuh ini, di tengah dinginnya cuaca pagi hari, ya ini lah kesederhanaan hidup yang ku alami, tinggal di gubuk kecil sederhana dengan dinding bilik tua mulai rapuh karena di makan rayap.

Kemudian tanpa sengaja datang tamu tak di undang di dalam fikiran ini untuk mengulang masa lalu yang sesungguhnya tak dapat di ulangi kembali dalam kehidupan nyata saat ini. Bertahun-tahun setelah ku tinggal lama tempat ini, belum banyak mengalami perubahan. Teringat dengan masa-masa kecil yang penuh dengan kenangan, meski kenangan itu tak seindah dan juga sebaik yang di inginkan.

Setiap hari  sore itu banyak hal yang ku lakukan, sepulang sekolah membantu mbah kakung (sebutan kakek) untuk melakukan pekerjaan sebagai seorang petani, tak begitu luas hanya sebidang tanah sawah yang di garap oleh nya, bertahun tahun tinggal jauh dari kedua orang tua, karena sejak kecil di titipkan oleh kedua orang tua kepada simbah, karena kedua orang tua ku pergi merantau sejak masih anak-anak yang begitu polos dan lugunya, belum genap 3 tahun usianya pada waktu itu, mereka menitipkan ku kepada simbah, simbah ini adalah orang tua dari ayah.

Ketika usia belum genap 6 tahun simbah memasukan ku ke sekolah dasar di desa ini. Hal ini di lakukan karena teman-teman ku juga sudah mulai memasuki bangku sekolah, desa yang berada di lembah dan di kelilingi pegunungan yang berdiri kokoh nan hijau tepatnya pada SDN 1 Kajoran. ya langsung masuk di sekolah dasar karena pada waktu itu taman kanak-kanak maupun pendidikan anak usia dini belum se tenar sekarang, sekolah Di daerah desa terpencil dan jauh dari gemerlapnya kota Kebumen, letaknya di provinsi jawa tengah. selang setelah pendaftaran ada cerita yang tak bisa di lupakan saat itu yaitu Ketika sudah mulai masuk sekolah semua teman-teman mengenakan seragam sekolah dengan celana merah dan kemeja putih, tetapi tidak dengan ku , entah apa yang menjadi alasannya aku pun tak tahu, dan bahkan tak terfikirkan oleh ku, sebagian teman ada yang mengejeknya pada waktu itu, tapi tak sedikitpun aku menghiraukan mereka. Banyak ejekan macam-macam yang di dapat, tapi tak sedikitpun menyurutkan untuk tetap belajar, ya meskipun dengan modal otak yang pas-pasan, banyak cerita yang sebenarnya Selama duduk di bangku sekolah dasar, akan tetapi jika di tuliskan semua disini sampai ribuan halaman tak akan cukup untuk menceritakan semua kenangan pada masa itu dan setelah 6 tahun terlewati, kemudian akhirnya di nyatakan lulus. singkat cerita setelah lulus dari sekolah dasar lalu melanjutkan ke sekolah menengah pertama, masih di daerah itu juga, dan akhirnya dapat di terima SMP negeri.

       Tak jauh beda dengan pada saat di sekolah dasar saat masuk di sekolah menengah pun masih tetap banyak yang mengejeknya, entah ada apa yang aneh pada diri saya, tapi di terima saja dengan lapang dada. Nah pada saat-saat ini hari-hari yang mulai dengan banyak kenangan-kenangan yang bisa di ingat.
Sepulang sekolah di rumah sudah banyak yang menjadi kebiasaan rutinitas setiap hari, seperti membantu membersihkan rumah, mencuci piring,menyapu halaman, mencari kayu bakar dan lain sebagainya, selain itu juga membantu simbah di sawah, jika musim penghujan tiba mulai membajak sawah untuk di tanami padi hingga memanennya, dan ketika musim kemarau sebidang tanah itu di tanami dengan tembakau, dengan sebagian yang lain di tanami kacang hijau, ya itulah rutinitas yang sudah biasa di alami, hingga 3 tahun lulus dari sekolah menengah pertama.

       Kerinduan ingin hidup seperti taman-teman yang lain dapat tinggal juga hidup dengan kedua orang tua, mendapat perhatian dari kedua orang tua, kemudian diri ini pergi menyusul ke tempat kedua orang tua merantau ke kota Jakarta.. Seberarnya ingin sekali melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi  tapi karena keterbatasan ekonomi itu, setelah keluar dari sekolah menengah pertama, langsung bekerja, ya hanya pekerjaan seadanya, berawal dari saudara tepatnya paman yang menawari untuk bekerja di sebuah kantor pelayanan expedisi. Hanya sebagai petugas cleaning service, ya pada saat itu tak  terlalu banyak  pikir panjang ujar ku, walau sedikit ragu tetapi langsung saja ku terima tawaran itu.

        Pertama kali menginjak kota Jakarta, ibu kota yang sering di ceritakan orang-orang ternyata tak seindah bayangan seperti biasa kebanyakan orang-orang ceritakan, Jakarta yang kumuh, penuh dengan manusia dari berbagai pelosok juga penjuru daerah, tapi tak begitu banyak orang yang peduli dengan orang lain, mereka terlalu sibuk dengan urusan dan juga kepentingan mereka masing-masing. Serta kamacetan di sana sini, oohh inilah Jakarta yang sesungguhnya, kota yang banyak orang-orang ingin mendatanginya, yang katanya kota metropolitan, kota dengan sejuta harapan tak lama hanya sekitar 6 bulan bisa bertahan di ibu kota itu, belum sempat bisa hidup bersama orang tua, bahkan pergi jauh dari keluarga simbah meninggalkan kampung halaman serta hidup seorang diri tanpa ada seorangpun yang di kenalnya.

         Setelah itu akhirnya aku bisa berkumpul dengan kedua orang tua ku. Ya keinginan untuk melanjutkan sekolah pun masih ada, tapi ketika hendak masuk sekolah di kota dengan biaya yang begitu besar, akhirnya di urungkan niatnya kembali, masih berfikir lagi , setelah di tunda 2 tahun akhirnya baru dapat kembali melanjutkan sekolah menengah kejuruan (SMK) di kota bogor, meskipun telah tertunda, tapi takada yang namanya terlambat untuk belajar, ketika saat itu mulai terfikirkan begitu susahnya menjadi orang bodoh yang setiap harinya hanya di bodohi juga di perbudak oleh orang lain, menjadi orang bodoh itu sangat tidak enak, meskipun sedikit menyesal, tapi apa yang perlu di sesali, tak perlu terus menerus terpenjara dengan masa lalu, yang penting fikirkan bagaimana kedepannya.

Untuk merubah sesuatu yang tidak biasa memang sedikit sulit tapi dari kebiasaan itu kita bisa menjadikan yang biasa bisa menjadi luar biasa.

Baru bisa di mengerti batapa pentingnya ilmu yang harus kita ketahui betapa pentingnya pengetahuan yang harus kita miliki. Hingga akhirnya 3tahun belajar di kota, selalu mendapatkan prestasi hingga biaya sekolah pun di tanggung dari beasiswa. Keberuntungan bisa saja menghampiri siapa saja yang mau berbuat juga berusaha.

Bersambung…..


0 komentar:

Post a Comment